miss you, rain ~
“Pada ulang tahunku tahun ini, aku patah hati. Setiap kali berulang tahun, aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibuku bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan? Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya cinta. ‘Aku berharap bisa melindungimu dari patah hati. Tapi itu tak mungkin.’ ‘Kenapa, Bu?’ ‘Karena mengalami kehilangan adalah bagian dari kembali kepada menemukan. Tapi jangan pernah kaulupa, kau tak akan pernah kekurangan cinta.’ [[MORE]] ‘Karena cinta itu besar?’ ‘Karena aku tak akan berhenti mencintaimu.’ ‘Seberapa besar kau mencintaiku, Bu?’ ‘Sebesar kuku jari.’ Aku yang sedang menggigiti kuku jari tengahku terdiam. ‘Kuku jari?’ Ibu menatapku dengan tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan, terutama ketika aku ulang tahun dan patah hati. Dan malam ini, aku mengalami keduanya. ‘Iya. Kuku jarimu selalu tumbuh meski kaupotong. Sebesar itulah cinta. Tak pernah sangat besar, tidak juga terlalu kecil. Cinta itu cukup.’ Lima belas tahun kemudian, ketika Ibu sudah tak lagi bersamaku, aku baru paham filosofi kuku jari dan mengapa cukup adalah bilangan tak terhingga dari cinta. Cinta selalu cukup untuk siapa saja. Semakin aku bertambah usia, semakin aku pun paham. Tak pernah ada cara yang tepat untuk mencintai. Yang disebut tepat adalah ketika aku dan kamu saling mencintai dengan cukup. Ibu pasti bangga di sana. Putri kecilnya kini sudah dewasa dan berani mencintai sebesar kuku jari itu. Tak peduli berapa banyak ia mengalami patah hati. Lilin ulang tahunku pun padam. Ini sudah malam, waktunya mataku memejam. *** AKU selesai membaca naskah final perempuan yang dalam bahasa Sansekerta, namanya digunakan untuk menyebut dewa pencipta tertinggi. Beberapa perubahan yang signifikan terlihat. Kosong—judul naskah buku terbarunya—telah siap lahir ke dunia yang lebih luas, dunia pembaca. Sebuah dunia yang sebenarnya juga kosong. *) epilog dari ‘Bukan Cerita Cinta’, sebuah novella karya Windy Ariestanty di dalam ‘Kāla Kālī’, terbitan GagasMedia. ’Kāla Kālī’ juga menghadirkan novella karya Valiant Budi Yogi.”
kāla kālī: hanya waktu yang tak pernah terlambat windy-ariestanty: gegas dan waktu tak pernah bisa berbagi ruang, apalagi, berbagi cerita. maka, saling mencarilah mereka, berusaha menggenapi satu sama lain. hingga satu titik, kāla menjadi mula dan kālī mengakhiri cerita. *** Aku merasa kembali menjadi balita, mengentak-entakkan kaki ke lantai sambil bertepuk-tepuk tangan gembira. Tidak ingin membuang-buang waktu, aku segera meniup lilin sambil berharap dalam hati akan ada lilin serupa untuk tahun depan, di atas sepotong kue yang dibawakan Ibu. AMIN! Berbagai potongan kenangan dengan Ibu berkelebatan hebat di benakku. Aku mungkin berbeda dengan remaja lainnya yang kala mengingat masa kecil selalu dengan tawa dan kebersamaan yang hangat; seperti yang kulihat di lembaran iklan-iklan susu balita atau es krim literan itu. Dan, setiap kenangan itu hadir, ingin rasanya membalikkan langkah.   (Ramalan dari Desa Emas, Valiant Budi) —- Setiap kali berulang tahun, aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibuku bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan? Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya cinta. ‘Aku berharap bisa melindungimu dari patah hati. Tapi, itu tak mungkin.’ (Bukan Cerita Cinta, Windy Ariestanty) *** Kãla Kãlī: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis kenamaan GagasMedia, Windy Ariestanty dan Valiant Budi. Keduanya mempersembahkan sebuah cerita yang bermain-main sekaligus memberi ruang pada waktu. 

kāla kālī: hanya waktu yang tak pernah terlambat

windy-ariestanty:

gegas dan waktu tak pernah bisa berbagi ruang, apalagi, berbagi cerita. maka, saling mencarilah mereka, berusaha menggenapi satu sama lain. hingga satu titik, kāla menjadi mula dan kālī mengakhiri cerita.

***

Aku merasa kembali menjadi balita, mengentak-entakkan kaki ke lantai sambil bertepuk-tepuk tangan gembira. Tidak ingin membuang-buang waktu, aku segera meniup lilin sambil berharap dalam hati akan ada lilin serupa untuk tahun depan, di atas sepotong kue yang dibawakan Ibu. AMIN!

Berbagai potongan kenangan dengan Ibu berkelebatan hebat di benakku. Aku mungkin berbeda dengan remaja lainnya yang kala mengingat masa kecil selalu dengan tawa dan kebersamaan yang hangat; seperti yang kulihat di lembaran iklan-iklan susu balita atau es krim literan itu.

Dan, setiap kenangan itu hadir, ingin rasanya membalikkan langkah.  

(Ramalan dari Desa Emas, Valiant Budi)

—-

Setiap kali berulang tahun, aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibuku bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan?

Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya cinta. ‘Aku berharap bisa melindungimu dari patah hati. Tapi, itu tak mungkin.’

(Bukan Cerita Cinta, Windy Ariestanty)

***

Kãla Kãlī: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis kenamaan GagasMedia, Windy Ariestanty dan Valiant Budi. Keduanya mempersembahkan sebuah cerita yang bermain-main sekaligus memberi ruang pada waktu. 

tak ada_

berhentilah berpikir tentang aku. berhentilah mengucapkan namaku. kau lihat, aku tak nyata. seolah titik-titik yang terputus-putus di hela waktu. berbaris rapi,  berjalan tertunduk meninggalkan kenangan. berhentilah memikirkanku. nanti kau lelah. sungguh, aku tak ada.
t e a 
sore selepas hujan,
aku berdiam,
menata hati.

berdiri menatap ujung jalan dari balik tirai jendela.
mataku tak henti menatap daun pintu berwarna cokelat itu.
 secangkir teh hangat sudah habis setengahnya, halaman buku sudah tergerus oleh waktu. aku menarik kursi dan menatap ke depan, hanya diam dan menata hati 30 menit lagi, katamu, :) aku diam dan menunggu dalam diam senja, secangkir teh hangat dan kedatanganmu.: A Great Photograph by ENDAH LESTARI ATI, Narration by WINDRI FITRIA